Infrastruktur

Pengertian prasarana menurut Undang-Undang Permukiman No.4/1992 adalah kelengkapan dasar fisik suatu lingkungan, kawasan, kota atau wilayah (spatial space) sehingga  memungkinkan ruang tersebut berfungsi sebagaimana mestinya. Kelengkapan dasar fisik meliputi jaringan linier sepert jalan, drainase, air bersih, sanitasi, listrik, telepon, dan persampahan.

 

1.  Jaringan Jalan

Menurut UU No. 13 tahun 1980, jalan merupakan suatu prasarana perhubungan dalam bentuk apapun, meliputi segala bagiannya, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas.

Secara umum jalan dapat digolongkan menjadi tiga yaitu jalan umum (untuk lalu lintas umum), jalan khusus (untuk mendukung kegiatan – kegiatan khusus dan tidak diperuntukkan bagi lalu lintas umum. Contohnya: jalan perkebunan, jalan pertambangan, dll), dan jalan tol (jalan umum bebas hambatan yang dalam pemakaiannya dikenakan kewajiban membayar tol)

Klasifikasi jalan terbagi atas tiga jenis, yaitu berdasarkan perannya, berdasarkan wewenang pembinaannya, dan berdasarkan syarat peranannya. Jalan berdasarkan peranannya terbagi menjadi 3, yaitu jalan arteri (melayani angkutan utama dengan ciri-iri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk yang dibatasi secara efisien), jalan kolektor (melayani angkutan pengumpulan dan atau pembagian menuju ke suatu tempat atau keluar dari suatu tempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi), dan jalan lokal (melayani angkutan setempat dengan ciri-ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk yang tidak dibatasi). Dari jalan lokal, mungkin saja masih ada jalan yang lebih kecil sifatnya dan hanya melayani kebutuhan tertentu bukan untuk lalu lintas, misalnya jalan buntu (cul de sac). Jalan berdasarkan wewenang pembinaannya terbagi menjadi 5, yaitu Jalan Nasional (pembinaan dan pengelolaanya dilakukan oleh pemerintah pusat, yaitu Menteri Pekerjaan Umum dan Dinas Bina Marga), Jalan Propinsi (tingkat kepentingan, pembinaan dan pengelolaanya diserahkan kepada Pemda tingkat I, yaitu Dinas PU Bina Marga), Jalan Kabupaten (tingkat kepentingan, pembinaan, dan pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah daerah tingkat II khususnya Bappeda Tingkat II dan Dinas Pekerjaan Umum Tingkat II), Jalan Desa (pengelolaan jalannya dilakukan oleh pemerintah desa/kelurahan), dan Jalan Khusus (dibangun untuk kepentingan tertentu dan dilaksanakan oleh instansi yang ditunjuk atau yang mempunyai wewenang). Sedangkan jalan berdasarkan syarat peranannya terbagi menjadi 2, yaitu sistem Jaringan Jalan Primer (dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk pengembangan semua wilayah di tingkat nasional dengan semua simpul jasa distribusi yang kemudian berwujud kota) dan sistem Jaringan Jalan Sekunder (dengan peranan pelayanan jasa distribusi untuk masyarakat dalam kota).

 

2.  Drainase

Suatu jaringan drainase memiliki fungsi untuk mengalirkan limpahan air hujan atau air limbah yang berlebih. Drainase merupakan salah satu fungsi pengendali banjir (flood control) dan dapat pula berfungsi sebagai sistem pembuangan air yang berlebihan baik air yang berasal dari permukaan tanah (surface drainage) maupun yang berasal dari bawah permukaan tanah yang bertujuan untuk mengendalikan muka air tanah dan mengurangi tingkat keasinan.

Semua hal yang menyangkut kelebihan air di kawasan kota dapat menimbulkan permasalahan drainase yang cukup kompleks, sehingga diperlukan sebuah perencanaan drainase yang dapat menampung semua kelebihan air yang ada dan mampu mengatasi masalah drainase yang telah terjadi. Faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan saluran drainase yang baik antara lain adalah kondisi fisik alam (topografi, ketinggian, luas daerah, lokasi genangan), curah hujan, kondisi hidrologi (keadaan sungai/DAS), pola pemanfaatan lahan dan data lain yang diperlukan.

Jenis-jenis drainase dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1.  Menurut sejarah

  • Drainase alamiah  :  Terbentuk secara alami dan tidak terdapat bangunan-bangunan penunjang seperti bangunan pelimpah, pasangan batu beton, gorong-gorong, dan lain lain. Saluran ini terbentuk oleh gerusan air yang bergerak karena gravitasi yang lambat laun membentuk jalan air yang permanen seperti sungai.
  • Drainase buatan  :  Merupakan drainase yang dibuat karena mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Jenis drainase ini memerlukan bangunan-bangunan khusus seperti selokan pasangan batu beton, gorong-gorong, pipa-pipa, dsb.

2.  Menurut peruntukan

  • Drainase pembuangan air kotor permukaan  :  Jenis darainase ini digunakan untuk menampung hasil buangan air yang berasal dari permukiman atau limbah rumah tangga.
  • Drainase pembuangan limbah cair industri  :  Digunakan untuk pembuangan limbah industri sehingga diperlukan saluran khusus yang terpisah dari sistem drainase. Namun dalam pelaksanaannya, hal ini belum dapat dilakukan.

3.  Menurut letak

  • Drainase permukaan tanah (surface drainage)  :  Saluran drainase yang berada di atas permukaan tanah yang berfungsi untuk mengalirkan air limpasan permukaan.
  • Drainase bawah permukaan tanah (subsurface drainage)  :  Saluran drainase yang bertujuan mengalirkan air limpasan permukaan melalui media di bawah permukaan tanah dikarenakan alasan-alasan tertentu sehingga memerlukan bangunan penunjang.

4.  Menurut fungsi

  • Single purpose  :  Saluran drainase yang berfungsi untuk mengalirkan satu jenis air buangan, misalnya air hujan saja atau jenis buangan yang lain.
  • Multi purpose  :  Saluran drainase yang berfungsi mengalirkan beberapa jenis air buangan baik secara bercampur maupun bergantian.

5.  Menurut konstruksinya

  • Saluran terbuka  :  Saluran drainase yang lebih cocok untuk drainase air hujan yang terletak di daerah yang mempunyai luasan cukup, ataupun untuk drainase air non hujan yang tidak membahayakan kesehatan.
  • Saluran tertutup  :  Saluran drainase yang pada umumnya sering dipakai untuk aliran air kotor atau untuk saluran yang terletak di tengah kota.

Adapun sistem drainase dapat digolongkan sebagai berikut:

a)    Sistem terpisah (separate system)  :  Air kotor dan air hujan dilayani oleh sistem saluran masing-masing secara terpisah. Dasar dari sistem ini yaitu karena air buangan memerlukan pengolahan lagi.

b)   Sistem tercampur (combined system)  :  Air kotor dan air hujan disalurkan melalui satu saluran yang sama.

c)    Sistem kombinasi (pseudo separate system)  :  Merupakan perpaduan antara saluran air buangan dan saluran air hujan dimana pada waktu musim hujan air buangan dan air hujan tercampur dalam saluran air buangan, sedangkan air hujan berfungsi sebagai pengencer dan penggelontor. Kedua saluran ini tidak bersatu tetapi dihubungkan dengan sistem perpipaan interseptor.

 

3.  Air Bersih  

Air bersih merupakan air non olahan yang langsung diambil dari sumbernya (air sungai, air danau atau air tanah) dan mempunyai kualitas air yang memenuhi persyaratan standar air baku untuk air minum. Pembangunan prasarana air bersih bertujuan untuk menyediakan air bersih bagi masyarakat yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan dan memenuhi kebutuhan akan air yang mempunyai nilai strategis. Kebutuhan air bersih sebagai patokan kebutuhan air minum di kota-kota kecamatan (orde IV) adalah 60 Liter/Jiwa/Hari. Penyediaan dan pengelolaan air bersih mencakup sistem perpipaan dan non perpipaan. Sistem jaringan distribusi air bersih adalah sistem pendistribusian air bersih melalui pipa dari reservoir ke konsumen. Kelengkapan sistem air bersih meliputi air baku, bangunan pengolahan air (Instalansi Pengolahan Air/IPA), sistem transmisi dan distribusi serta reservoir.

 

4.  Persampahan

Sampah merupakan buangan yang bersifat padat dan setengah padat. Buangan tersebut merupakan  hasil sampingan dari kegiatan perkotaan atau siklus kehidupan manusia, hewan, maupun tumbuhan. Sampah secara teknis mempunyai pengertian sebagai limbah  yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan (DPU Cipta Karya,1990). Kriteria jenis sampah berdasarkan sifat fisiknya dapat dibedakan menjadi dua karakteristik, yaitu sampah basah (garbage), yaitu sampah yang terdiri dari bahan-bahan organik yang mudah membusuk dan biasanya berasal dari sisa makanan, yang sifat umumnya banyak mangandung air, mudah membusuk, dan sulit untuk dibakar (contoh: sisa makanan, buah-buahan, sayur-sayuran, dedaunan, dll), dan sampah kering (rubbish), yaitu sampah yang mengandung senyawa tertentu sehingga tidak mudah untuk diuraikan oleh mikroorganisme (contoh: kertas, tekstil, plastik, karet, pecah belah, logam, kayu, kaca, dll).

 

5.  Listrik

Semakin berkembangnya teknologi yang ada, membuat kebutuhan akan listrik semakin meningkat. Ini dikarenakan teknologi-teknologi baru yang ada sangat memerlukan energi listrik sebagai salah satu sarana dasar untuk menunjang kelancaran kegiatan perkotaan. Kebutuhan fasilitas listrik pada setiap kawasan dipilah menurut kebutuhan sesuai dengan fungsi kawasan tersebut. Jaringan listrik adalah salah satu kesatuan sistem jaringan yang terdiri dari: sumber pembangkit listrik, gardu induk, gardu hubung, gardu pembagi atau distribusi jaringan kabel tegangan tinggi, jaringan kabel tegangan rendah, jaringan kabel tegangan menengah dan jaringan kabel tegangan tinggi. Sedangkan Pembangkit Tenaga Listrik (PLT) adalah suatu proses perubahan energi tertentu menjadi energi listrik. Pelayanan kebutuhan listrik saat ini sedang diupayakan oleh PLN. Secara umum kriteria pelayanan akan kebutuhan listrik itu sendiri dapat ditentukan berdasarkan perhitungan kebutuhan berdasarkan atas perkiraan jumlah penduduk dan kelompok pelanggan dengan target pelayanan.

 

6.  Telepon

Telepon merupakan salah satu prasarana penghubung dalam aktivitas berkomunikasi. Sedangkan telekomunikasi merupakan kegiatan pemancaran, pengiriman atau penerimaan setiap jenis, tanda, suara, gambar, dan informasi dalam bentuk apapun melalui sistem kawat, optik, radio, electromagnetik lainnya. Dasar pertimbangan Rencana Induk Sistem (RIS) jaringan telepon perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  • Kondisi eksisting  (membandingan antara jumlah penduduk yang menggunakan telepon dengan jumlah penduduk yang tidak menggunakan telepon)
  • Perkiraan penduduk 10 tahun mendatang  (perhitungan kebutuhan sambungan telepon menggunakan pendekatan jumlah penduduk, dimana target pelayanan diperhitungkan dengan jumlah sambungan per 100 jiwa penduduk)
  • Besaran kota atau klasifikasi wilayah  (klasifikasi kota yang berbeda akan membedakan pula kriteria kebutuhan masyrakat dimana kota besar hampir sebagian besar penduduk mengganggap sambungan telepon merupakan kebutuhan pokok, sedangkan di kota kecil sebaliknya)
  • Pendapatan penduduk  (penduduk kota yang berpenghasilan menengah ke atas akan lebih berminat untuk menjadi pelanggan dibanding dengan penduduk yang berpenghasilan rendah)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s